CRAFTERKOKI

  • Home
Home → Semua Post

Konsultasi Pasca LOD (9)

Crafterkoki
4 Comments
2/27/2016

Alhamdulillah satu step terlalui. Semoga semakin dekat dengan goal yang kami inginkan. Setelah laparoscopy, selama 4 hari masih terus keluar darah mirip darah haid. Sesekali luka bekas operasi masih sakit saat duduk terlalu lama. Perlahan rasa sakitpun mulai mereda. Kalau tidak nyeri saya hanya minum antibiotik oral yang diberikan sedangkan obat anti nyerinya tidak saya minum. Bahkan obat anti nyeri pronalges ketoprofen (pain killer via anus) tidak pernah sekalipun saya gunakan. Hanya ada sedikit masalah, karena opsite (plester luka anti air) bolak balik rembes saat mandi. Jadilah opsite yang seharusnya dibawa saat kontrol saya pakai dulu, bahkan sempat beli opsite lagi karena rembes terus.

Kontrol I Pasca LOD
Satu minggu terlewati, tiba saatnya saya kontrol sekaligus buka jahitan. Sampai diruang tunggu suster menanyakan apakah saya membawa oposite dan betadine yang diberikan setelah operasi, saya bilang saja kalau sudah terpakai. Suster menyarankan saya untuk membeli 3 pcs opsite lagi di apotik. Tiba juga giliran saya, suster langsung mengarahkan saya menuju bed disusul dr. T. Tek..tek.. bunyi gunting saat dr.T memotong sisa benang bekas operasi, dilanjutkan suster mengusap lukanya dengan betadine dan ditutup kembali dengan opsite. Kali ini saya tidak di trans V. Setelah selesai saya kembali ke samping suami saya. dr. T membuka photo operasi LOD saya dan menerangkan beberapa hal terkait operasi kemarin dan treatment yang akan dilakukan pada saya selanjutnya. Dr.T memberikan gambaran jika saya harus bisa hamil alami dalam jangka waktu 4 bulan pasca operasi karena hasil operasi LOD hanya bisa mempertahankan kondisi ovarium normal selama 6 bulan saja, jika dalam waktu 4 bulan belum hamil saya disarankan untuk inseminasi. Selain itu dr. T juga menekankan kalau saya harus rutin minum obat dan mutlak harus olahraga setiap hari, saya juga ditarget harus bisa menurunkan 10 % dari BB saya saat itu. dr. T lucu banget, sesekali menggoda kami dan bilang kalo sekarang sudah bisa "woyo-woyo" (berhubungan intim, red) ckckckck... "Nanti saya kasi obat juga buat bapak biar spermanya galak-galak". Suami saya tersipu malu jadinya. Kontrol hari ini selesai.
  • Beli opsite 3 pcs Rp. 48.000
  • Biaya kontrol post operasi Rp. 300.000
  • Obat untuk saya Inlacin 100 mg dan Formell (metformin 850 mg) @60 tabs (untuk 2 bulan) Rp. 487.200,-
  • Supplement untuk suami Torrex (90 caps) dan Eturol escolab (60 caps) Rp. 1.115.000
Total biaya: Rp. 1.950.200,-

Kontrol II Pasca LOD
Hahaha, dasarnya saya aja kali yang suka hectic. Dr. T sebenarnya menginstruksikan kontrol pas seminggu sebelum obat habis, saya malah datang satu bulan sebelumnya. Maksudnya sich, ingin lihat kondisi sel telur. Selain itu saya punya sedikit keluhan karena siklus haid saya memendek drastis jadi 20 harian (khawatir donk jadinya). Untungnya suami mau antar saya ke Bandung, sempat sebel jua si hubby gara-gara kena macet dari farm house Lembang sampai Setiabudi. Akhirnya, sampai juga di RS Limijati. Ketemu dr. T saya senyum senyum sambil menceritakan keluhan yang saya alami. Saya kemudian di USG trans V. Dr. T bilang kalau kondisi ovarium saya sudah bagus. Beliau juga sempat menanyakan berat badan saya sudah turun berapa kg, saya bilang 5 kg. Dr.T menyemangati saya agar terus giat olahraga. "Oke dok akan saya laksanakan!". Saya diresepkan obat yang sama dengan bulan lalu, saya putuskan untuk menebus nanti saja kalau obat sebelumnya sudah habis. Seminggu menjelang obat sebelumnya habis saya tebus kembali resep dari dr. T dirumah sakit yang sama. 
  • Biaya Konsultasi dan USG trans V Rp. 300.000,-
  • Obat Inlacin 100 mg dan Forbetes (metformin 850 mg) @ 60 tabs Rp. 449.800,-
Total biaya: Rp. 749.800,-

Kontrol III Pasca LOD
Obat yang saya tebus terakhir baru diminum 12 tab dan lagi-lagi panic plus hectic gara-gara siklus haid maju lagi jadi 18 hari. Darah yang keluar sedikit, seminggu kemudian haid lagi. Esok harinya (h+2 haid) saya minta suami untuk mengantar konsultasi lagi ke dr.T. Baru masuk ruangan, sudah digoda dr. T "sudah berapa bulan hamilnya", saya tersenyum cengengesan "belum dok". Dokter T juga tak bosan-bosan bertanya sudah turun berapa kg dan masih terus olahraga atau tidak. Dr. T sampai bertanya ulang pada suami apakah benar saya rutin olahraga, suami sayapun membenarkan kalau saya rutin olahraga dan sudah turun 10 kg (padahal yang sebenarnya sudah turun 11 kg). Lalu saya ceritakan keluhan saya, "yuk diperiksa dulu" kata dr. T. "Bagus kok kondisinya" ujar dokter T sambil mengoperasikan alat USG. Sebelum menyudahi USG dr. T menggoda saya, "langsingan ya sekarang, makan apa". Sayapun menjawab "saya ganti beras putih dengan beras merah dok, dan menjauhi makanan yang indeks glikemiknya tinggi". Dr. T tersenyum lalu kembali menyambung percakapan "saya mau ganti juga ah makan beras merah", lucu kan dokternya, ckckckck. Di meja konsultasi dr. T menjelaskan kalau kondisi yang saya alami wajar, rahim saya sedang bingung menerima sinyal. Hal ini dikarenakan karena sebelum LOD saya hampir tidak pernah ovulasi, dan pasca LOD saya bisa berovulasi. Saya memilih untuk percaya saja dengan apa kata dr. T. Saya menyinggung diet yang saya jalani selama ini, dan dr. T menyarankan untuk dilanjutkan saja, karena pola hidup sehat itu penting, "ya kalau dilanggar sesekali gak papalah" begitu selorohnya, membuat saya dan suami tertawa. Masalah jadwal berhubungan intim dr. T tidak memberikan waktu khusus, "yang penting rutin saja 2 atau 3 hari sekali hajar aja" hahahahaha kami tertawa lagi. Beliau juga mengingatkan kalau 2 bulan lagi belum hamil saya harus menyiapkan diri untuk menjalani proses inseminasi. Dr. T kembali meresepkan obat yang sama, saya memutuskan menebus obatnya setengah saja, karena obat sebelumnya masih banyak.
  • Biaya Konsultasi dan USG trans V Rp. 300.000
  • Obat Inlacin 100 mg dan Fomell (metformin 850 mg) @30 tabs Rp. 243.600,-
Total biaya: Rp. 543.600,-

**postingan ini dilengkapi dengan nilai nominal biaya pengobatan semata mata bukan bermaksud pamer dsb, namun hanya sebagai tambahan informasi saja.

To be continued (klik disini)
Read More »

PENGALAMAN OPERASI LOD (Laparoscopy Ovarian Drilling) (8)

Crafterkoki
19 Comments
2/27/2016
Ujian Tuhan adalah sesuatu yang harus kita selesaikan. Dan Tuhanlah yang akan memampukan hambanya yang sungguh sungguh dalam menyelesaikan ujian. Saya memilih untuk tak menyerah dan menyelesaikan ujian ini semampu saya, Bismillahhirrahmanirrahiim... Innalaha ma ana...


Ilustrasi gambar teknis laparoskopi kandungan, credit:www.singhealth.com.sg

Sepulang dari konsultasi dengan dr. T membuat saya down, namun ada perasaan lega karena tahu problem apa yang membuat saya sulit memiliki keturunan. Rasa takut dan khawatir terus menghantui, efeknya saya jadi susah tidur, stress, dan gampang marah ke suami. Canggihnya teknologi informasi justru menjadi penambah kecemasan, bagaimana tidak gara gara sering browsing tentang LOD nyali jadi tambah ciut, apa iya saya harus melakukannya. Ya Allah kuatkan saya. Hari-hari hanya saya isi dengan mencari informasi PCOS, laparoscopy dan seputar LOD. Parahnya semakin banyak tahu, semakin susah tidur, semakin cemas dan semakin menjadi pikiran.

Mencoba mencari second opinion kemana-mana, mulai dari family dan teman yang kebetulan dokter dan bergelut di dunia medis. Mereka memberikan suntikan semangat tersendiri untuk saya, sehingga mantap mengambil keputusan "oke, saya harus LOD". Sampai disini sebenarnya rasa cemas dan susah tidur belum jua hilang. Bahkan pernah beberapa hari sampai jam 3 pagi baru menutup si lepi.

Setelah menghubungi asisten dr. T beberapa kali, jadwal LOD pun ditentukan, tanggal 5 November 2015 pagi jam 5.30. Saya diinformasikan asisten dr. T untuk mulai check in tanggal 4 Nopember 2015 pukul 18.00 WIB, membawa baju ganti 2 pieces saja, dan juga pembalut, hanya itu karena LOD sendiri adalah penanganan medis one day care..DONE...Putuskan dan lakukan... 

Saya memilih untuk tidak memberi tahu orang tua maupun mertua saya. Kami memilih menghadapinya berdua saja. Saya takut mereka kepikiran mendengar saya operasi. Hanya kakak kandung suami saya beritahu, alhamdulillah dia memberikan dorongan semangat yang luar biasa untuk saya. Semoga kali ini jalan terbuka untuk kami, "ya Allah mudahkan dan lancarkan usaha kami".

Tibalah saatnya, tanggal 04 Nopember 2015. Berangkat pukul 13.00 WIB. Suami tampak tenang menyetir, menelusuri dan meresapi sudut-sudut jalan menuju Paris van Java. Hingga sebuah panggilan di hape suami saya berdering. Mama mertua saya menelepon dan sayalah yang mengangkatnya. Terdengar mama menangis, bicara seperti ada yang tertahan. Mama mengabarkan kalau mbah kakung suami saya meninggal. Telpon langsung ditutup, saya bilang ke suami apa yang sudah disampaikan mamanya, raut wajahnya seketika berubah tampak sedih. Pikiran saya jadi kacau.. "Duh gusti bagaimana ini", saya sedih juga bingung apa yang harus kami lakukan. Tetap berangkat atau putar haluan pulang ke Jawa Timur. Hingga akhirnya suami saya mengambil keputusan, tetap melaksanakan operasi, masalah pulang dipikirkan nanti saja, begitu selorohnya.
Perjalanan yang tinggal separuhpun menjadi hening, tanpa ada percakapan diantara saya dan suami. Suami saya larut dalam pikirannya sendiri. Entahlah, mungkin suami masih kepikiran berita duka yang baru saja diterima. Belum lagi macet yang membuat tambah stress. Akhirnya tibalah di rumah sakit. Setelah itu parkir trus sholat ashar, daftar ulang di bagian informasi dan daftar valet mobil untuk 2 hari, supaya bebas keluar masuk rumah sakit tanpa harus bayar parkir lagi. 

Selanjutnya saya diarahkan untuk tes lab terlebih dahulu, dan disarankan room check in diatas jam 18.00 karena kalau check in sebelum jam tersebut dikenai biaya kamar full untuk 1 hari. Check lab: cek darah, ekg dan urin. Sempat menunggu lama karena belum ingin pipis, saya minum terus agar cepat ingin ke belakang. Waktu magrib pun datang. Setelah sholat magrib kira-kira pukul 18.10 menit saya ke bagian pendaftaran untuk room check in, Sebelum room check in ternyata harus deposit/ uang muka, saya deposit 10 juta. Lalu diantar ke atas ke lantai 3, sebelum diantar ke kamar saya menandatangi beberapa berkas administrasi. Ditangan saya dipasang tanda pengenal pasien (tertera nama saya, tanggal lahir dan dr. yang menangani saya). Suster memberi tahu kalau setiap kali ada suster yang akan memeriksa, memberikan tindakan atau mengantar makanan, saya harus menyebutkan tanggal lahir saya sebagai password. Kemudian saya diantar ke kamar. Kamar saya ruang 362 bed no.2. Setelah orientasi kamar selesai, saya ngobrol dengan suami. Kali ini saya jauh lebih tenang. Suami saya keluar sholat Isya, sedangkan saya sholat Isya di kamar. 

Berikut rangkaian tindakan medis sebelum operasi LOD:

  • Pukul 19.00 ada suster yang mengantar makan malam
  • Pukul 20.00 ada suster datang untuk mengukur tensi darah, suster menyarankan saya untuk rileks agar tidak tegang supaya tensinya tidak naik.
  • Pukul 23.00 perut saya dikuras, dimasukkan 2 botol cairan obat pencahar dari anus, hanya selang 1 menit saya langsung ingin buang air besar.
  • Pukul 03.00 ada suster yang hendak membangunkan saya untuk bersiap siap tapi saya sudah bangun sendiri. Saya menyempatkan diri untuk qiyamul lail, kemudian membangunkan suami saya untuk bersiap siap juga sembari menunggu adzan Subuh.
  • Pukul 03.30 suster datang lagi, saya ditensi ulang, tekanan saya turun karena tidak bisa tidur. Saya kembali disuruh tidur sebentar, tapi tetap saja tidak bisa tidur.
  • Pukul 04.20 suster lain datang untuk mencukur rambut yang ada di sekitar perut dan vagina. Selanjutnya saya mandi, kemudian melepas perhiasan yang saya pakai.
  • Pukul 05.00 ada suster yang memberikan injeksi tes alergi antibiotik. Suntikan ini sakit sekali, tangan kanan saya sampai sedikit bentol di area bekas suntikan tersebut.
  • Pukul 05.30 ada suster datang dan menjemput saya untuk diantar ke ruang operasi.

Sebelum masuk ke ruang oprasi saya masuk ke ruang persiapan, disana saya dipakaikan pakaian operasi, di tensi lagi dan di pasang infus, suster nampak sedikit kesusahan mencari pembuluh darah saya karena saya gemuk, hahaha. Disentil-sentil berkali kali sampai kulit saya merah akhirnya ketemu juga. Setelah dipasang infus suami saya dipanggil untuk ganti pakaian juga.

Sebelum operasi saya masih sempat berbincang dengan suami saya. Saya sudah tenang, dan insyaallah siap menjalani semuanya. Selang beberapa saat dr.T datang, sambil bergurau "ngapain si gendut disini", sontak membuat saya tertawa. Ah dokter ini pandai sekali membuat pasiennya merasa nyaman. Di beberapa forum dr.T memang dikenal ramah dan humoris pokoknya bisa membuat pasien benar-benar nyaman. Akhirnya ada instruksi dari dokter anastesi sepertinya, sayapun dibawa ke ruang operasi. Disana saya tak henti-hentinya berdzikir semoga operasinya berjalan lancar. Lalu dokter anastesi mulai menyuntikkan obat diselang infus saya, dan GELAP. Saya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena sudah tak sadarkan diri sementara saya belum melihat suami saya masuk keruang operasi.

Ilustrasi gambar proses laparoscopy, credit:www.serkanoral.com
Menurut suami, setelah masuk ruang tindakan operasi, telah bersiap disana dokter bedah (dr. T sendiri), dokter anestesi dan beberapa asisten dokter. Dokter T dengan kedua tangannya memegang dua buah alat operasi, sedangkan dokter anestesi memegang alat camera. Alat operasi hanya sebesar pulpen. Masing-masing alat menempati lubang perut bagian bawah yang sebelumnya sudah dibuat. Sementara camera menempati lubang di bagian dekat pusar. Dengan konsentrasi sangat tinggi dokter T bekerja sangat hati-hati. Meski demikian, terlihat gerakannya yang sangat terampil dan ahli. Beberapa kali tangan kirinya melepas alat operasi kemudian mengezoom gambar di monitor. Saat dilepas alat operasi digantikan dipegang dokter anestesi. Tak kalah sigap beberapa asisten dokter bedah siap melaksanakan instruksi dokter T. Satu orang bertugas mengawasi monitor detak jantung dan tekanan darah, dua orang asisten mendampingi dokter bertugas menyiapkan alat-alat operasi dan mengelap keringat dokter, satu orang mensterilkan alat, dan satu orang asisten lagi entah apa tugas khususnya, yang pasti asisten terakhir ini yang paling sibuk, dari lari-lari mengambil barang/ alat yang dibutuhkan dokter, dokumentasi, geser-geser mesin/ monitor, pasang kabel, dll.

Masih menurut suami, dokter T dengan teliti memeriksa setiap organ sambil memberikan penjelasan nama organ, fungsi dan kondisinya saat diperiksa, baik atau buruk. Alat yang digunakan seperti penjepit di kedua sisi lubang. Semua baik, hanya beberapa bagian seperti tertutup selaput berwarna kuning. Kemudian alat sebelah kanan diganti dengan sebuah alat pencuci, seperti cairan destilat. Organ yang tertutup disemprot dengan cairan destilat tersebut, sehingga nampak jelas. Sampai disini tidak terlihat adanya kista atau keanehan lain. Hingga sampailah pada organ ovarium berwarna putih susu. Disini dokter mengamati agak lama, hampir satu menitan. Dibolak-balik, diteliti, agak diangkat, di zoom, kemudian dicapture. Alat penyemprot destilat tadi kemudian diganti dengan alat lain. Disini ovarium sedikit diangkat dengan penjepit dan di drill dengan alat baru dimasukkan di 6 titik. Kemudian pindah ke ovarium yang satunya lagi dengan perlakuan yang sama. Ketika di drill seperti keluar asap dan langsung kering. Alat drill diganti lagi dengan alat penyedot cairan. Semua cairan destilat, sedikit darah dan cairan dari bekas drill dibersihkan. Kemudian dokter memasukkan cairan berwarna biru melalui miss V. Teknik ini seperti HSG untuk mengetahui saluran tuba. Kembali cairan disedot bersih. Setelah capture sana sini, alat-alat operasi & camera dicabut. FINISH. Sampai disini suami diminta keluar ruang operasi, diikuti dokter T yang sudah melepas masker dan sarung tangan. Sementara luka bekas lubang dijahit oleh dokter anestesi.

Pukul 07.00 saya berangsur sadarkan diri. Mungkin karena efek obat bius tadi, saya meracau. Sedikit saya ingat saya sudah merasakan sakit di area sekitar perut sambil meracau keras. Untung yang keluar dari mulut saya adalah kalimat toyibah, coba kalo kata-kata kotor kan bisa malu didengar suster dan suami saya. Mungkin saya mengganggu suster dan proses operasi orang lain akhirnya saya diberi obat penenang untuk tidur sejenak. Setelah beberapa saat saya terbangun suami saya masih ada disamping saya, namun kali ini saya lebih tenang. Saya meminta suami untuk membacakan surat Al-Insyirah. Alhamdulillah saya sudah sadar dan tenang. Malah saya sempat meminta pada suami saya untuk diphoto sebagai dokumentasi. Beberapa saat kemudian suster datang dan menanyakan apakah saya sudah tidak kedinginan, saya bilang "tidak". Lalu suster melepas jaket thermal yang saya gunakan. Selang oksigen saya dilepas, dan saya kembali diantar ke ruang rawat. Saya masih setengah sadar, bangun, tidur bangun lagi begitu saja sampai beberapa kali. Yang saya rasakan sedikit nyeri dan rasa tidak nyaman di bagian perut. Tenyata memang tak nyaman sekali dipakaikan kateter. Hmm... tapi mau bagaimana lagi, ini harus. Datang 2 orang suster saya dipakaikan celana dalam dan pembalut melahirkan. Saya diberitahu untuk istirahat dan belajar miring kanan miring kiri. Karena agar usus saya cepat bekerja kembali. Kata suster karena tadi saya dibius total otomatis kerja lambung dan usus juga berhenti. Saya baru boleh makan kalau usus saya sudah kembali bekerja. Saya hanya boleh minum, disediakan teh manis dan air putih. Tiap satu jam sekali suster datang untuk mendengar bunyi usus saya, tapi selalu nihil. Suster bertanya sudah lapar saya jawab tidak sus karena memang belum lapar. Beberapa kali suster menyuntikan obat ke selang infus saya dan memasukkan anti nyeri.

Baru ketika akan masuk waktu magrib saya sudah boleh makan. Saya ditawari bubur sum2 dan havermout dan saya pilih bubur sum sum. Alhamdulillah hari ini terlewati, semoga esok kondisi saya membaik dan bisa pulang. Suami saya begitu setia menemani, menyuapi makanan memberi minum dll. 

Tiba juga hari ini, semoga bisa cepat pulang. Hampir sama seperti kemarin suster masih bolak balik datang ke bilik saya untuk memberikan antibiotik dan anti nyeri, antar makanan, periksa tensi, menyeka, dan ganti pakaian. Sekitar pukul 08.00 suster melepas infus dan kateter, saya disarankan belajar duduk tegap dan belajar jalan perlahan, saya sudah jalan ke toilet sendiri, mencoba keliling bilik yang saya tempati. Kata suster saya bisa pulang setelah visit dokter. Alhamdulillah pukul 10.00 dr. T datang dan memeriksa keadaan saya, saya diberi tahu hari ini sudah boleh pulang dan minggu depan harus check up post operasi untuk lepas jahitan, "ah senangnya".

Suami saya langsung menyelesaikan sisa pembayaran lalu mengemasi barang- barang kami. Selesai berkemas, saya ditinggal sholat Jumat oleh suami saya, saya memilih tiduran sesaat kemudian suster datang mengantar jatah makan siang, hihihi saya mulai lahap makan. Selesai suami sholat Jumat kamipun pulang, sesaat sebelum pulang tanda pengenal pasien digunting dan saya dibekali antibiotik oral (Lapicef 500 mg) yang harus dihabiskan, anti nyeri (analtram), 3 buah Pronalges ketoprofen (pain killer via dubur) yang digunakan kalau sakit tak tertahankan dan 3 pcs opsite (plester luka operasi anti air) lengkap dengan 1 botol betadine untuk dibawa saat kontrol post operasi.


  • Total biaya laparoskopi (laboratorium, perawatan, biaya kamar, tindakan operasi, dan obat-obatan): Rp. 27.991.000,-

Review khusus untuk RSIA LIMIJATI Bandung:
  • Fasilitas lengkap, bersih, ruang periksa dan ruang rawat nyaman, kamar mandinya juga bersih.
  • Serba online, jadi pasien bisa dengan mudah melakukan pendaftaran via line telpon, sampai dirumah sakit tinggal gesek kartu pasien untuk menemukan reservasi via telpon sebelumnya. saya merasa, terbantu sekali dengan fasilitas ini.
  • Tim medis dan perawatnya ramah-ramah, khusus untuk perawatnya tidak ada yang bermuka masam, semua perawat sigap, cepat dan cermat dalam membatu pasien rawat inap. Beberapa kali saya minta bantuan perawat untuk dibantu tayamum karena suami saya masih keluar makan, perawatnya dengan senang hati membatu saya.
  • Walaupun masih terhitung rumah sakit Kristen (ada Bible / Alkitab di laci ruang rawat), namun musholla hampir ditiap pojok rumah sakit ada, bersih dan nyaman pula. Perawatnya juga banyak yang berjilbab, toleransi beragama di rumah sakit ini terasa sekali.
  • Pernah saat suster datang untuk memberikan anti nyeri, ada nyamuk di bilik saya (cuma satu) susternya susah payah nangkap nyamuknya. Spontan saya bilang "gak papa sus cuma satu ini", susternya jawab "bukan begitu bu, ibu kan kondisinya sedang lemah ditakutkan nyamuknya malah jadi agen penyakit, nanti kalo ada nyamuk lagi langsung kasi tahu saya ya". wew.. satu menit kemudian cleaning service datang menyemprotkan obat nyamuk.

TO BE CONTINUED (klik disini)

Berikut sekilas mengenai laparoscopy (klik disini) atau (klik disini)

Read More »

KONSULTASI OBGYN "part 4" (7)

Crafterkoki
2 Comments
2/26/2016

Penghujung 2015...
Setelah terakhir konsultasi ke dr S dan kami dirujuk ke dr. T, saya berusaha mengumpulkan sisa sisa semangat untuk terus ikhtiar mendapatkan keturunan. Lagi-lagi karena suami yang masih sangat sibuk mengurus project, tak baik rasanya saya mengganggu dengan masalah sebesar ini. Saya berusaha sabar, meyakinkan diri kalau semua ada saatnya. Yang terpenting adalah antara saya dan suami sudah ada kesepakatan, Insyaallah kami akan mengusahakan yang terbaik untuk mendapatkan keturunan. Hari kembali seperti biasa, sambil jualan bantal mobil online saya mencoba mempraktekkan tips tips hamil melalui natural conception. Mulai dari hidup sehat, posisi berhubungan, konsumsi seafood untuk suami dll.  Namun lagi-lagi hasilnya masih nihil.

Hingga akhirnya dipenghujung  Oktober 2015 ketika suami mulai santai dengan projectnya, kamipun sepakat untuk mulai berobat ke dr T. Seminggu sebelum berobat saya mencoba menghubungi RSIA Limijati via inbok di Facebook menanyakan prosedur pendaftaran pasien dan jadwal praktek dr. T, tak sampai sehari sudah ada balasan pesan yang saya kirim. Isinya prosedur pendaftaran dan jadwal praktek dokter. Alhamdulillah pendaftaran bisa melalui line telpon dan dibantu customer service, sehingga saat saya datang tidak perlu daftar ulang kembali. Saya hanya diminta membawa KTP asli.

Singkat cerita, pergilah saya ke Bandung ke RSIA Limijati. Berbekal hasil tes yang pernah saya dan suami lakukan, mulai dari hasil analisa sperma sampai photo HSG. Setelah melengkapi dokumen di Customer service saya diarahkan ke ruang praktek dr T. Waaah..antriannya sudah panjang ternyata, praktek dokternya juga sudah mulai. Sepertinya saya dapat antrian terakhir. Berusaha untuk tidak cemas, namun perasaan takut tak bisa saya tutupi, suami saya berusaha menenangkan. Sambil beberapa kali berkata "tenang saja", perasaan takut dan gundah hilang ketika melihat tatapan teduh wajahnya (cieeeee, suit..suwiwit). Akhirnya tiba giliran saya dipanggil suster, semua hasil test saya serahkan ke suster untuk diserahkan ke dokter T. Saya masuk dengan perasaan deg degan, saya dan suami dipersilahkan duduk. Dokter membuka buka hasil test laboratorium saya, kemudian bertanya, "Sudah menikah berapa tahun?", pertanyaan standart dari dr. T
"Sudah hampir 6 tahun dok," jawab saya.
"Kunaon teh belum hamil?" seloroh dr. T mencairkan suasana.
Saya cuma nyengir kuda. Pertanyaan dokter ditimpali suami saya, "Teu tiasa nyarios Sunda dok."
"Asli mana?" dokter tanya lagi.
Dijawab suami saya kalau dia orang Jawa dan saya orang Bali.
"Yuk di periksa dulu," kata dokternya.
Saya diarahkan suster menuju pojok ruangan yang disekat tirai dengan ruangan konsultasi. Pemeriksaanpun dimulai. Sebelumnya saya dibantu suster untuk teknis persiapan sebelum USG trans V. Tak butuh waktu lama, dokter bilang.. "Ini mah PCOS berat". Mak deg, bagaikan disambar petir sudah PCOS pakai kata berat lagi. Ya Allah ujian apalagi yang engkau berikan pada kami. Setelah selesai USG Trans V saya duduk kembali disebelah suami saya yang sedang bicara dengan dokter. Lidah saya kelu, saya hanya mampu bicara. "Bisa sembuh dok"?, "Bisa," kata dokter. sangking kagetnya, dari ruang USG trans V saya lupa memakai sepatu saya kembali, hingga dibawakan suster untuk saya pakai kembali.

Pembicaraanpun berlanjut hanya antara dokter dan suami saya. Seketika perasaan takut menyergap. Ya Allah kuatkan saya. Kata dokter ada dua opsi penanganan PCOS ini, yang pertama melalui pemberian obat dan yang kedua melalui operasi. Mendengar kata operasi jantung saya semakin berdegup kencang, pandangan mata agak blur. Kepala sudah penuh dengan bayangan dan pikiran antara cemas, bingung, dan gambaran orang sakit tergeletak tak berdaya.
"Menurut dokter mana yang lebih sesuai untuk kami dok?" suara suami pun memecah lamunan saya.
"Melalui pemberian obat memang butuh waktu agak lama, sekitar 5 sampai 6 bulan. Itupun harus disertai olah raga aktif. Ya menurut saya lebih cocok kalau langsung dioperasi saja, karena ini sudah enam tahun. Dengan operasi akan sangat lebih mudah penanganannya. Disitu nanti akan kita perbaiki organ-organ reproduksinya, dilihat ovarium, tuba dan rahimnya. Terus nanti akan sedikit dilubangi ovariumnya beberapa titik untuk membantu sel telur agar bisa ovulasi," jelas dr. T panjang lebar kali tinggi.
"Oooo gitu dok ya. Kalau untuk teknis tindakan operasinya bisa digambarkan dok?, ujar suami.
"Ya nanti bikin janji aja dulu mau kapan operasinya. Nanti nginap disini satu atau dua hari. Untuk teknisnya, kita pake laparoscopy. Nanti dibius total, terus di perutnya dibuat tiga titik lubang kecil untuk alat operasi dan kamera. Nanti disitu semua akan kelihatan. Gimana operasi saja? Saya besok ada bayi tabung. Kalau mau sekalian aja besok." jelas pak dokter.
"Baiklah dok, nanti akan kami pertimbangkan dan pikirkan terlebih dahulu. Kalau besok langsung operasi mungkin belum dok, kami pikirkan dululah ya." jawab suami.

Suami saya juga sempat menyinggung hasil analisis sperma, mengingat tesnya sudah dilakukan sudah sangat lama. Dokter bilang tak masalah, karena hasilnya bagus dan hasil analisis yang bagus cenderung tidak mengalami perubahan selanjutnya. Saya memilih untuk percaya apa kata dokter saja. Dokter menjelaskan bahwa operasi yang akan dilakukan ini menghancurkan 40% folikel ovarium dikanan dan kiri, tujuannya agar 60% folikel sisanya bisa menghasilkan telur yang sehat dan siap dibuahi. Dikatakan pula bahwa dengan menjalani laparoskopi masalah yang mungkin tidak bisa dilihat dengan USG bisa terlihat saat menjalani laparoskopi misalnya ditemukan kista hitam dll.

"Oke. Ini tidak saya kasih obat ya. Nanti bapak sama ibu daftar aja dulu, tanya administrasinya gimana. Mo jadi apa tidak nanti bapak ibu yang memutuskan. Kalau jadi ini saya kasih pengantar cek lab, nanti dibawa sebelum operasi," ujar pak dokter.
"Baik dok, terimakasih," pungkas suami saya.

Setelah basa-basi dengan suster menanyakan teknis membuat appointment dan lain-lain, saya menuju front office untuk menanyakan biaya administrasi tindakan laporoscopy. Bayangan saya ya mungkin besarannya tidak jauh dari operasi caesar di rumah sakit daerah yang sering saya dengar dari forum rumpi tetangga. Saya dan suami pun dipersilahkan duduk di kursi yang cukup empuk, di depan kami tersungging senyum lebar customer service. Setelah mengetahui maksud dan tujuan saya, si CS masih dengan senyumnya menyodorkan leaflet beberapa pilihan kamar dan total biaya untuk laparoscopy. Gambar angka disitu cukup membuat mulut ternganga. Ya maklumlah, baru kali ini berobat sampai seperti ini. Kelas ekonomi mencapai 26 sd 28 juta. Itu yang kami pilih. Sementara VIP terpampang nyata angka diatas 40an juta.
  • Biaya konsultasi dan USG trans V : Rp. 300.000,-

Tanda - tanda PCOS memang sudah lama saya rasakan, antara lain:
  • Berbulu, bulu di tubuh saya sangat banyak. wajah, kaki, tangan, gurat kumis mirip Iis Dahlia
  • Siklus haid yang panjang, setelah menikah haid saya termasuk lancar hanya saja suka mudur lama. mungkin ini salah satu penyebab saya tidak pernah di vonis pcos oleh obgyn sebelumnya.
  • Saya obesitas, dengan karakter penumpukan lemak di area perut kanan kiri dekat pinggul dan dekat ketiak (arm pit).
  • Saya punya genetis Diabetes dari mamak saya
  • wanita PCOS, cenderung memiliki libido yang tinggi (ini sempat di singgung dr. T juga, sontak membuat saya malu)
Diperjalanan pulang perasaan saya semakin gelisah, entah operasi apa yang akan saya jalani nanti...

TO BE CONTINUED (klik disini)
Sekilas info tentang PCOS (klik disini)
Read More »

KONSULTASI OBGYN "part 3" (6)

Crafterkoki
Add Comment
2/24/2016
Diakhir 2014,
Setelah hampir 2 tahun berhenti ke obgyn dan mencoba pengobatan tradisional, berbekal sisa-sisa trauma kegagalan saya memberanikan diri konsultasi lagi ke obgyn. Lebih tepatnya karena terpaksa, siklus haid saya yang biasanya normal walapum terbilang panjang 35 hari (maju mundur 1 minggu) jadi berantakan bisa sampai 2 bulan sekali. Haid terakhir siklusnya 2 bulan. Setelah selesai haid terakhir dalam hitungan 1 minggu saya haid lagi tapi kali ini darah yang keluar hanya sedikit sekali. Saya biarkan selama satu minggu tapi tetap saja keluar darah, sampai 12 hari.

Dengan berat hati saya putuskan kembali menemui dokter kandungan, dan kali ini dokter yang berbeda dr. Rus** Spog. Dokternya tak banyak bicara, di awal kunjungan saya sudah merasa nyaman dan cocok dengan dokter ini. Hasil pemeriksaan USG menunjukkan saya mengalami penebalan dinding rahim. Walapun tak banyak bicara, tapi dokter R cukup komunikatif beliau menjawab seluruh pertanyaan saya dengan jelas. Saya sempat menanyakan masalah PCOS, karena dari artikel di internet gejala yang saya alami sama seperti gejala PCOS. Beliau mengatakan kalau beliau juga curiga jika saya PCOS suspect. Selain diberikan beberapa obat, beliau minta saya untuk menurunkan berat badan 5 % dari total BB saat itu. Dokter bilang setelah selesai minum obat kalo penebalan dinding rahimnya masih ada, saya akan dikuretase. Alhamdulillah dari hasil kontrol seminggu kemudian penebalan dinding rahim saya sudah dinyatakan bersih. 

Bulan berikutnya saya telat haid lagi kali ini juga sama hampir 2 bulan, saya kira hamil. Kemudian saya pergi ke dokter R namun dokter R sudah tidak praktek lagi di klinik yang biasa saya kunjungi, karena beliau hanya dokter pengganti dari dr Soedi***. Saya akhirnya ditangani dr. S, dr. S sudah sepuh ditelinganya dipasang alat bantu dengar. Setelah di USG, ternyata rahim saya kosong. Dokter sempat bertanya beberapa hal pada saya setelah melihat resume saya ketika ditangani oleh dr. R. Setelah menulis resep yang kata beliau obat perangsang haid, beliau mengeluarkan secarik kertas oret2 yang dimasukkan ke dalam amplop kecil. Dokter S berkata saya rujuk ke dr. T*** Dj****** S.pog K.Fer cari di RSIA Limijati Bandung beliau praktek disana. Aaaaaaa...h perasaan saya tambah kacau, mencoba menerka nerka penyakit apa yang saya derita. Sedih, tapi saya berusaha menerimanya. Beruntung saya memiliki suami yang pengertian. Kamipun sepakat untuk pergi ke dr. T di RSIA Limijati Bandung. Namun karena suami saya super sibuk, disibukkan kerjaan proyek akhirnya konsultasi ke dr. T kami tunda sampai suami saya punya waktu luang, sekaligus mempersiapkan budget berobat ke dr. T.
TO BE CONTINUED (klik disini)
Read More »

Traditional Treatment: Pijat Hamil (5)

Crafterkoki
4 Comments
2/23/2016

Sepanjang 2013-2014
Efek konsultasi terakhir dengan obgyn membuat beban pikiran yang berkepanjangan. Makan tak enak tidurpun tak nyenyak. Saya jadi down, takut menghadapi kemungkinan buruk yang mungkin dihadapi jika program hamil lewat jalan medis saya teruskan. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak airmata yang keluar. Mencoba tetap sabar ternyata susah, tiap saat ada saja yang nyinyir masalah momongan.

Tak kehabisan jalan, biarlah kali ini kami upayakan lewat jalur non medis a.k.a tradisional. Dari mulai pijat sampai jamu tradisional kami harap bisa jadi jalan datangnya buah hati dambaan. Banyak saran berdatangan, "coba kesini", "coba kesitu", "coba ke si ini", "coba ke si itu". Dari yang logis sampai yang non logis. Ya, setidaknya saya dan misua masih bisa berpikir jernih, masih bisa membedakan mana yang masuk akal dan saran yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Meski bukan ustadhah atau ulama wara', terus terang saya menolak keras jika ada yang menyarankan pengobatan alternatif non logis (magic). Karena merupakan kesyirikan dan dapat merusak aqidah kita, naudzubillah min dzalik. Ada juga yang menyarankan untuk mancing dengan mengangkat anak orang lain untuk kami asuh, konon katanya bisa buat pancingan. Untuk hal ini saya tidak percaya, saya hanya percaya rejeki anak murni dari Allah, dan bukan karena pancingan. Selain itu adopsi anak tidak ada dalam ajaran Islam, terlebih lagi jika mengasuh anak yang tidak memiliki ikatan mahrom, kelak anak yang diasuh jika sudah baligh akan menjadi yang halal dinikahi oleh salah satu orang tuanya (batal/ non mahrom-red). Skip ya ceritanya tentang adopsi sampai disini. Ada beberapa pengobatan alternatif yang saya datangi rata-rata tukang pijat semua.

Mbah Mn, Kras-Kediri Jawa Timur. Buka praktik hari Sabtu, Minggu dan Selasa Kliwon. Setiap kali pulang ke Jawa Timur selalu saya sempatkan mendatangi praktek mbah Mn. Nama besarnya sudah melegenda di wilayah kediri dan sekitarnya, khususnya bagi ibu-ibu rumah tangga. Bahkan konon beberapa pasiennya ada yang berasal dari luar pulau Jawa.

Bermaksud ingin membuktikan kesaktian Mbah Mn, surprise sekali ketika kunjungan pertama kali ke rumah yang sekaligus menjadi tempat praktik mbah Mn. Bagaimana tidak, kami sampai di Kras pukul 7.30 WIB pagi, halaman rumahnya sudah penuh dengan parkir sepeda motor. Pasiennya sudah membludak sampai teras rumah, sedangkan di dalam rumah, nampak puluhan ibu-ibu berdesak-desakan mengantri. Suara bayi nangis juga tak henti-hentinya menambah keramaian suasana. "Anu, menawi lare alit kaleh ibu-ibu sing pun mbobot ageng diriyenne angsale nggrendo (Kalau bayi sama ibu hamil tua biasanya didahulukan dipijat)," kata seorang mamah muda dengan logat jawa medog di dekat saya. Tiba giliran saya, ternyata metode pijat yang dilakukan mbah Mn ini sama seperti tukang pijat pada umumnya. Pijit kaki, raba perut dan pundak sambil memberikan wejangan agar tidak makan beberapa makanan, buah dan jajanan. Setelah selesai saya diberikan sebotol jamu kunyit. Thats all, no magic.

Merasa cocok, di lain kesempatan saya kembali mengunjungi praktek mbah Mn. Kali ini benar-benar pagi, setelah selesai sholat subuh. Berharap dapat jatah antrian awal. Ternyata setelah sampai ditempat praktik mbah Mn, sudah banyak pasien yang datang. Kebanyakan ibu-ibu muda yang bawa anak balita untuk memijatkan si anak, ibu hamil yang memperbaiki letak janin, dan beberapa orang yang susah punya anak seperti saya. 

Beberapa pasien mbah Mn ini pernah memberikan testimoni untuk saya. Keahlian mbah Mn dalam memijit bayi, ibu hamil, dan wanita yang merencanakan kehamilan sudah banyak yang membuktikan. Tetangga mertua saya namanya mbak Esti divonis dokter bayinya sungsang, lantas dibawa ke Mbah Mn, disana dipijat, diperbaiki posisi bayinya. Kemudian ketika di USG ulang menunjukkan posisi normal. Dan banyak lagi cerita orang yang berhasil berobat kesana. 

Metode pengobatannya hanya dipijat dan diberi ramuan jamu tradisional. Disuruh sering minum air kelapa hijau dan menjauhi beberapa buah (semangka, nangka, durian, ah lupa apa lagi). Mbah Mn sama sekali tidak pernah memvonis orang sakit ini -sakit itu. Mbah Mn hanya pure mijat, dan memberian saran posisi berhubungan intim yang benar. 

Sejauh ini saya masih salut ke Mbah Mn, selain pasiennya banyak sekali, ketrampilan pijat memijat terlihat ketika menangani anak balita. Anak balita dipijat dan dibolak balik badannya, tetap nurut dan tidak sedikitpun menangis. Balita yang sakit batuk pilek, diambil dahaknya tanpa kesakitan sama sekali.  Rasa salut terlebih ketika mengetahui kalau saya menderita PCOS dan makanan yang dilarang Mbah Mn merupakan makanan dengan indeks glikemik tinggi, yang buruk untuk PCOS suspect seperti saya.  Saran dan anjuran Mbah Mn mengenai makanan benar-benar cocok sesuai anjuran dokter.

Cerita Mbah Mn udah ya, mungkin belum rejeki berobat disini.

Mbah N, Pare Selatan - Kediri Jawa Timur. Tukang pijat kedua yang saya datangi namanya Mbah N, masih terbilang muda tapi sudah dipanggil Mbah. Datang kesini bersama rombongan keluarga. Konon katanya si Mbah N ini bisa mengobati banyak penyakit. Karena katanya Mbah N ini tukang pijat saya jadi mau ikut datang ke tempat praktiknya. Setelah sampai disana pikiran saya mulai kacau lihat bambu bambu bentuk aneh yang dipasang di ruang pengobatan, ada pula patung kecil entah patung apa yang diletakkan di dalam bingkai kaca. 

Keanehannya berlanjut saat saya melihat si mbah menangani salah seorang pasien wanita (sebut saja si A) yang kebetulan antriannya sebelum saya. Keluhan si A mens gak berhenti, si A divonis kista oleh si mbah ini setelah diraba - raba perutnya dan diakhiri dengan gerakan tangan kanan memutar persis seperti tabib menyalurkan tenaga dalamnya, bergerak ke kanan dan ke kiri tanpa menyentuh pasien. Disela sela percakapan dengan si A, saya begitu jelas mendengar kalau si A suka aerobik berlebihan. Dalam diam saya berpikir "Ya pastilah kalau lagi mens, dibawa olahraga berat mens malah banyak, atau bahkan cenderung keluar terus, namanya dinding rahim lagi luruh ditambah aktifitas berat sudah pasti erosi donk," batin saya. Saya tambah gak yakin dengan Mbah N. 

Setelah beberapa pasien, dengan perlakuan yang hampir mirip tibalah giliran saya. Dengan posisi duduk, Mbah N ini mulai memijit dimulai dari kepala lalu ke area punggung dan perut (masih pakai pakaian lengkap ya, jangan salah paham), mirip seperti pijatan yang dilakukan untuk pasien sebelumnya. Namun tetap saja "it so awkward moment". Kemudian mbah N bertanya sudah berapa tahun menikah? Saya jawab 3 tahunan. Selanjutnya mbah N menceritakan beberapa testimoni yang sudah berhasil hamil setelah ditanganinya, jujur saya tidak percaya. Saya tetap pada prinsip testimoni akurat adalah testimoni dari pasien yang sudah berhasil, bukan dari yang mengobati. Si mbah mulai lagi tanya riwayat penyakit dan keluhan saya, mulai dari saya punya hepatitis atau tidak, haid sakit atau tidak, dll. Saya jawab "tidak", karena tidak pernah punya hepatitits dan haid juga tidak pernah sakit si mbah kelihatan bingung menentukan vonis yang akan dia berikan (itu jelas sekali tergambar diwajahnya). Ooh.. jadi begitu polanya, pasien yang datang akan ditanya riwayat penyakit ini-itu baru si mbah mendiagnosa sekenanya. Kalau yang melakukannya dokter saya percaya, tapi ini tukang pijit??. Mari kita main bodoh-bodohan ya, orang awam juga bisa melakukan metode ini dengan modal baca baca buku kesehatan, itulah sebabnya masih banyak masyarakat yang tertipu dokter gadungan. Skip..skip.. tahu gak saya di vonis apa? Kata si mbah kista 5 cm  sodara-sodara. Ya sudahlah lagian saya tidak begitu percaya. Suami saya juga ikut dipijat si Mbah N. 

Entah apa yang merasuki pikiran kami sampai mau mendatanginya. Awal pengobatan yang sudah janggal mau kami teruskan hanya karena sungkan untuk spontan menolak dihadapan pasien lain dan rombongan keluarga. Kami yang terbiasa berpikir melalui pendekatan empirik mendadak tak berdaya dihadapkan pada masalah humanistik kecil seperti ini. Pulang dari sana kami dibekali 2 plastik jamu kering, kalau diseduh jamunya mirip kunyit, temu ireng, dan jahe yang dikeringkan (efek minum jamunya jadi doyan makan). Alasan kenapa saya mau meminum jamunya karena saya suka jamu, dan yang bayar jamu itu mama mertua saya, jadi saya yakin pasti ada doa tulus dari mama mertua saya.


Mak Ms, Medewi - Jembrana Bali. Singkat cerita, pada libur Lebaran saya pulang kampung ke Jembrana. Saya ke tukang pijat ini atas saran dari family. Kebetulan 2 orang family saya dipijat sama mak Ms ini dan berhasil hamil. Metodenya sama hanya dipijat, setelah baca bismillah (jelas saya dengan mak mis membacanya), saya mulai dipijat. Pijatannya enak lo, saya  cukup menikmatinya (25 menit) badan jadi rileks. Tidak ada ramuan yang diberikan. Selesai pijat, ngobrol sebentar trus pulang. Jujur saya juga tidak berharap banyak dari pijatan Mak Ms. 

Saya anggap semua yang saya lakukan adalah bagian dari ikhtiar yang akan dinilai Allah. Astagfirullah, Semoga Allah mengampuni kami jika ada beberapa pengobatan tradisional yang kami jalani menyalahi syariat agama.

**Postingan ini dibuat bukan untuk mempromosikan ataupun mendiskreditkan pihak terkait, nama tokoh saya samarkan. TO BE CONTINUED (klik disini)
Read More »

KONSULTASI OBGYN "part 2" (4)

Crafterkoki
Add Comment
2/22/2016
Diawal 2012....
Sebelum memutuskan untuk kembali ke Jawa Barat saya sempat memeriksakan diri ke obgyn di RS. Bayangkh*** kota kediri. Pertanyaan umum sama seperti saat saya ke Obgyn di Subang dulu, "sudah berapa tahun menikah"? "Pernah hamil"? "Pernah keguguran"? Sudah lumayan hafal, xixixi... kali ini saya sudah sedikit slow. Waktu itu saya ditangani dr. Ananing***. Setelah selesai di usg saya dan suami diberi beberapa obat (lupa obatnya apa saja, salah satunya blesifen) dan surat pengantar untuk cek lab HSG dan analisa sperma. Analisa sperma saat itu sempat dilakukan di Kediri di SIMA Lab. Alhamdulillah hasil analisa sperma suami saya bagus "normozoospermia". Berarti fix sayalah yang memiliki masalah reproduksi. 

Kami memutuskan untuk kembali ke Subang dan melakukan test HSG disana saja. Sebelum melakukan test HSG saya mendatangi obgyn lagi, masih di RS yang sama seperti dulu ketika ke obgyn pertama kali, namun kali ini dokternya perempuan dr. Ferri*** Fadillah, spog. Duuuh lama sekali kata perawat praktek mulai jam 9 namun dokternya baru datang jam 11. Sejam kemudian baru dapat giliran. Setelah menunjukkan hasil analisa sperma, saya di USG. Dari hasil USG kata dokter ada kista sebesar 3.8 cm. Saya sedikit shock, waktu itu saya dibekali obat yang cukup banyak entah apa saja namanya saya lupa dan surat rujukan untuk tes HSG. Seminggu kemudian saya tes HSG di spesialis radiologi, sakit banget ternyata HSG ini mungkin karena saya tegang akibatnya jadi tambah sakit. Setalah HSG, hasil keluar kira-kira satu mingguan. Dari hasil HSG alhamdulillah tuba saya 2-2nya paten, posisi rahim normal, besar uterus juga normal. 

Bulan berlalu tiba waktunya pergi ke obgyn. Saya putuskan untuk mendatangi praktek dr. Ferri*** diluar RS. Datang jam 7 pagi, antriannya sudah mengular. Jam 10 saya baru dapat giliran. Setelah di usg kata dokter kista saya mengecil, sekarang 1,1 cm dan masuk dalam kategori kista yang tidak berbahaya begitu menurut dokter. Melihat hasil HSG saya dokter bilang normal. Saya pulang dengan segepok obat (profertil, vit E dan kapsul anti oksidan, lupa namanya apa). Kata dokter jika bulan depan belum hamil disuruh kembali lagi di hari ke-2 haid. Bulan berikutnya saya dapat haid lagi, sedih banget rasanya. Begitu seterusnya sampai 3 kali siklus dengan obat yang sama tapi saya tak kunjung hamil juga. Pada saat konsultasi terakhir, dokter bilang jika masih belum hamil saya dirujuk ke RS. Hasan Sadikin Bandung.  Disana pengobatan infertilitas lebih canggih kata dr. Ferri***. Saya bertanya lebih serius kali ini, dari mulai uang yang harus saya siapkan dll. Ada kejadian yang membuat saya sedikit sakit hati dengan dokter ini,   waktu itu saya sempat bertanya kira-kira apa saja yang membuat orang sulit hamil ya dok. Eeeeeng... dokternya jawab agak ketus, "banyak faktorlah" bla..bla..bla..gedibla..gedibla.. malah cenderung memojokkan dan menakut-nakuti, mencontohkan kasus alergi sperma yang terjadi pada salah satu penyanyi dangdut terkenal "Camel** Ma***". Pada pernikahan pertama sang artis dangdut tidak membuahkan anak, baru pada pernikahan kedua sang artis dangdut punya anak. Spontan donk saya menimpali lalu bertanya "trus kalau seperti itu solusinya gimana ya dok", dokternya sambil senyum kecut dan berkata "ganti suami mungkin". Saya kesal sekali dengan jawaban dokter, mungkin saja maksud dia bercanda hanya saja bagi orang yang dalam kondisi susah punya keturunan seperti saya hal itu jadi sensitif. Sampai dirumah saya menangis sejadi jadinya sambil memeluk suami saya. Suami saya mencoba menenangkan, sampai seminggu saya gak doyan makan teringat percakapan  terakhir dengan dokter, efek yang paling parah saya jadi trauma mau ke Obgyn lagi. TO BE CONTINUED (klik disini)
Read More »

RAMBUTAN TANPA RAMBUT ASPAL

Crafterkoki
Add Comment
2/21/2016
Januari - Februari akrab dengan musim rambutan. Banyak penjual rambutan yang menjajakannya di pinggir jalan. Rambutan berbagai jenis dari mulai yang asam sampai manis bisa kita dapatkan dengan harga yang bervariasi dan tentu saja dipengaruhi keterampilan kita dalam hal tawar menawar harga, hehehehe. Saya sendiri tidak pernah sengaja membeli rambutan, bukan karena tidak suka. Tapi lebih karena malas tawar menawar dengan penjual. Saya tahu benar harga buah rambutan. Karena dirumah mertua saya banyak pohon rambutan. Kalo sedang musim paling mahal dari yang punya, rambutan hanya dihargai 1000-2000 per kg. Sah sah saja penjual mengambil untung, tapi menurut saya kadang penjual keterlaluan ngambil untungnya (bisa 20 rb/kg).

kiri: rambutan gundul asli, kanan: rambutan gundul palsu. rambutan gundul palsu yang saya beli lebih rapi dari gambar sebelah kiri (sangat mirip dengan asli). Hanya saja lupa tidak saya abadikan dengan kamera HP.

Hari Kamis minggu lalu saya ikut ke Auto 2000 daerah Pamanukan Subang Jawa Barat untuk service mobil berkala. Pulang dari Auto 2000, ketika lewat di perlintasan kereta Api daerah Pagaden saya tergoda melihat rambutan yang dijajakan dipinggir jalan. Ada sekitar 8 pedagang disisi Kanan dan Kiri jalan. Rambutan yang dijajakan bukan rambutan biasa tapi rambutan tanpa rambut (rambutan gundul), dari kejauhan mirip buah ceri namun ukurannya lebih besar dan sedikit panjang. Spontan saya suruh suami untuk meminggirkan kendaraan, ketika belum sempat menghampiri penjual, saya sudah dihampiri terlebih dahulu. Basa basi donk tanya ke penjual, "harganya saberaha mang?", "tilu puluh bu" . Saya kaget, wow harganya mahal banget, bagaimana tidak mahal 30 rb itu terdiri dari 3 ikat rambutan, tiap ikat isi nya sekitar 10 buah. Dalam hati saya, mungkin karena ini rambutan tanpa rambut makanya lebih mahal. Baiklah akan saya tawar. Dengan bahasa campur-campur karena tidak lancar berbahasa Sunda saya tawar 10 ribu rupiah. Kata si penjual 20 saja, saya masih menolak. Akhirnya karena penasaran, saya bilang lagi ke pak penjualnya kalau saya hanya penasaran dan ingin membeli sedikit, bagaimana jika saya beli satu ikat kecil dengan harga 10 rb rupiah dan akhirnya diijinkan oleh si bapak penjual. Sambil mengeluarkan uang 10 ribuan, saya pastikan kembali dan bertanya ke pak penjual. Rambutan ini asli tidak berambut, dan penjualnya bilang "ASLI" meyakinkan. Oke baiklah, menebus rasa penasaran. Diatas mobil saya perhatikan rambutan itu dengan seksama, sepersekian menit saya tersadar kalau saya sudah ditipu penjual. Rambutan tanpa rambut yang saya beli ternyata palsu, suami sayapun ikut meyakinkan kalau rambutan itu memang palsu (tidak sempat saya abadikan dengan kamera hp). Karena sudah dibeli saya buka dan saya makan saja, rasanya sedikit asam tapi kalis seperti rambutan aceh. Aaa...h saya kesal sekali kena tipu, untung hanya 10 rb. Bagaimana bisa mereka melakukan penipuan serapi ini dan entah sudah berapa banyak yang tertipu seperti saya. Kalau diperhatikan dengan seksama barulah kita tahu kalau ini rambutan gundul asli tapi palsu a.k.a ASPAL. Benar benar rapi satu rambutpun tak ada. Membuat saya berpikir keras bagaimana cara mereka melakukan dan bisa menyamarkannya (lebayyyyy), setelah mengamati beberapa kali barulah jelas terpikir cara yang mereka lakukan, terlebih lagi ketika mencium bau tangan setelah mengupas rambutan gundul aspal yang berbau sisa bakaran, mirip daun pisang yang bakar. Oh jadi seperti itu...... mereka melakukan penipuan ini dengan menggunting bulu rambutan terlebih dahulu lalu difinishing dengan cara dibakar untuk menghilangkan sisa rambut yang tidak tergunting dan menyamarkan sisa guntingan agar terlihat rata. Jaman sekarang ada saja orang yang ingin untung besar, dengan jalan penipuan seperti ini. Hati-hatilah kalau lewat di perlintasan kereta api Pagaden jangan sampai tergoda melihat rambutan gundul aspal seperti saya.

Read More »
Postingan Lebih Baru
Postingan Lama
Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Search here!

Let's be friend!

Facebook  Google+ Instagram Twitter 

Labels

  • Bread cake n cookies
  • Camilan
  • Ceritaku
  • Healthy Life Style
  • Ingin Jadi Ibu
  • Lapak Jualan
  • Lauk Pauk
  • Pojok Homemade

Popular Posts

  • KONSULTASI KEHAMILAN
    sumber gambar: www.123rf.com Konsultasi 1 25 Februari 2016 (4 W 3 D) 2 hari setelah mendapat tespack positif kami pergi ke dr.T ...
  • PENGALAMAN OPERASI LOD (Laparoscopy Ovarian Drilling) (8)
    Ujian Tuhan adalah sesuatu yang harus kita selesaikan. Dan Tuhanlah yang akan memampukan hambanya yang sungguh sungguh dalam menyelesaika...
  • Traditional Treatment: Pijat Hamil (5)
    Sepanjang 2013-2014 Efek konsultasi terakhir dengan obgyn membuat beban pikiran yang berkepanjangan. Makan tak enak tidurpun tak nyenya...
  • DIET PCOS
    Terkait program hamil pasca LOD yang saya jalani dokter memberi PR bahwa saya harus menurunkan 10 % dari total berat badan saya, dan ruti...
  • KONSULTASI OBGYN "part 3" (6)
    Diakhir 2014, Setelah hampir 2 tahun berhenti ke obgyn dan mencoba pengobatan tradisional, berbekal sisa-sisa trauma kegagalan saya...
  • Konsultasi Pasca LOD (9)
    Alhamdulillah satu step terlalui. Semoga semakin dekat dengan goal yang kami inginkan.   Setelah laparoscopy, selama 4 hari masih ter...
  • AKU HAMIL
    23 Februari 2016,  Sementar ghiroh mulai melemah, kusematkan keyakinan padaNya. Ya suatu saat pasti kejaiban itu akan datang menghampir...
  • MELAHIRKAN
    Ni juga late post banget, dah ditulis dari kemaren2 tapi belum diposting aja di blog. Hari ini my baby genap 7 bulan. usia 1 hari, wa...
  • GANTUNGAN KUNCI OWL
    Punya banyak kain perca dirumah? sayang kalau hanya berakhir jadi lap dapur, keset atau bahkan dibuang. Yuk bikin gantungan kunci owl, bisa...
  • MENCOBA PENGOBATAN TORCH (3)
    SEKILAS TENTANG TORCH  (klik disini) Awal 2011... Memasuki tahun ke-3 pernikahan dan Allah masih belum mempercayakan rejeki anak k...
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2015 CRAFTERKOKI Template By All Blog Things